Rabu, 30 Mei 2012

TERORISME: Arah Aksi Terorisme Di Indonesia Berubah


SOLO – Arah aksi terorisme yang terjadi di Indonesia dalam beberapa tahun ini berubah. Sebelum tahun 1999 aksi terorisme mengarah kepada masalah yang berkaitan dengan keagamaan.
“Namun pada tahun 1999-2011 lalu arahnya berubah yakni mengarah pada aparat keamanan, tempat ibadah, kantor pemerintahan dan sebagainya,” ujar Direktur Pencegahan, Perlindungan dan Deradikalisasi Badan Nasional Penanggulangan Terorisme (BNPT), Eko Satrio Agus Permadi, Sabtu (26/5/2012).
Dijelaskan Eko, perubahan arah aksi itu terjadi karena ada perasaan kekecewaan dan ketidakadilan yang dirasakan pelaku terorisme pada pemerintah, sehingga memunculkan aksi ekstrem dari pelaku ke tempat-tempat yang dianggap memunculkan ketidakadilan tersebut.
Eko menambahkan dengan adanya aksi-aksi terorisme itu, BNPT telah merangkum beberapa tipe aksi radikal yang terjadi di Indonesia. Tipe itu, jelas Eko, antara lain radikal gagasan, radikal milisi, radikal separatis, radikal keyakinan kebenaran beragama dan radikal terorisme. “Radikal milisi ini lebih mengarah pada komunal atau kelompok masyarakat. Sementara, tipe radikal terorisme ini yang perlu mendapat penanganan serius dari semua pihak,” papar dia.
Dengan kondisi itu, tambah Eko, pihak BNPT telah merancang sejumlah kebijakan dalam upaya preventif terjadinya tindak terorisme. Salah satunya dengan membuat training of trainer (ToT) dari beberapa tokoh masyarakat, tokoh pemuda, pendidik dan sejumlah relawan, yang bertugas untuk mencegah adanya aksi terorisme di masyarakat.
“Tahun 2011 lalu di Indonesia ada 247 orang kader ToT yang siap untuk memberikan penjelasan sebagai upaya menangkal aksi terorisme. Sedangkan tahun ini kami lebih menyasar ke sekolah-sekolah, karena adanya kecenderungan siswa bergabung dalam gerakan seperti DI/TII dan sebagainya,” paparnya.
Selain itu, BNPT juga berencana membangun pusat deradikalisasi di Sentul Bogor yang berdiri satu kompleks dengan pusat latihan penanggulangan terorisme. Upaya itu, jelas Eko, sebagai upaya untuk mencegah aksi terorisme terulang, setelah pelaku menjalani masa hukuman penjara. “Diakuinya, belum ada penanganan setelah menjalani hukuman pidana bagi para pelaku terorisme. Sehingga proses deradikalisasi bisa berjalan baik,” pungkas Eko.

Selasa, 29 Mei 2012

Gerakan Radikalisme Semakin Mengkhawatirkan

DEPOK – Badan Nasional Penanggulangan Terorisme (BNPT) mengklaim terus berkomitmen memberantas gerakan radikalisme dan terorisme di masyarakat. Kepala BNPT Irjen (Pol) Ansyaad Mbai menyebut gerakan radikalisme saat ini semakin mengkhawatirkan.

“Gerakan radikalisme itu semakin mengkhawatirkan. Meskipun pelakunya sudah di tangkap, tapi mereka tidak akan berhenti sampai disitu saja,” katanya di Pesantren Al-Hikam milik Mantan Ketua PBNU Hasyim Muzadi di Beji, Depok,
Ansyaad mengungkapkan, sumber dari gerakan radikalisme agama dari luar maupun luar negeri. Dari luar ditandai masuknya gerakan transnasional seperti ingin mendirikan khilafah Islamiyah di Indonesia. 

“Sedangkan dari dalam, adalah pemahaman, penafsiran yang sempit dan pemikiran yang dangkal tentang agama Islam,’ jelasnya.

Untuk itu, sambungnya, pihaknya hanya bisa menetralisir gerakan radikalisme. Pasalnya, radikalisme merupakan ideologi dan tidak bisa hanya melakukan penangkapan pucuk pimpinan.

“Saat ini dibutuhkan peran ulama dalam mengatasi permasalahan radikalisme agama. UUD dan pancasila itu sudah final. Kita ingin ulama bangkit selamatkan negara ini dan tidak terjebak dalam perseteruan panjang yang tidak ada habisnya,” tandasnya.

Selasa, 22 Mei 2012

Radikalisme Agama Masih Dipandang Keliru


Palu,  Staf ahli Menteri Agama Bidang Kerukunan Umat Beragama dan Hak Asasi Manusia Abdul Fatah mengatakan masih ada kekeliruan mendasar di tengah masyarakat dalam memahami radikalisme.

"Bahwa radikalisme agama hanya terdapat pada agama Islam semata. Ini tentu tidak benar," kata Abdul Fatah pada workshop membangun kesadaran dan starategi dalam menghadapi gerakan radikalisasi agama di Palu, Senin (21/05) malam.

Workshop tersebut dihadiri oleh sejumlah perwakilan tokoh agama dari berbagai agama yang ada di Sulawesi Tengah. Kegiatan ini akan berlangsung hingga Selasa (22/5).

Abdul Fatah mengatakan radikalisme agama terdapat pada hampir setiap agama. Hanya saja Fatah, dalam konteks Indonesia yang mayoritas adalah pemeluk Islam maka tampak seakan-akan agama Islamlah yang memiliki kelompok radikal.

Fatah melanjutkan, Pemahaman keliru bahwa gerakan kelompok radikal mewakili suara mayoritas agama. Padahal katanya tidak seperti itu.

Persepsi tentang radikal mewakili suara mayoritas agama muncul dari pemeluk agama lain atau juga komunitas internasional yang melihat fenomena kehidupan sosial keagamaan di Indonesia.

"Pandangan ini juga perlu diluruskan mengingat pandangan dan gerakan radikal dari kelompok tertentu tidaklah mewakili pandangan dari agama itu sendiri," kata Fatah.

"Kelompok radikal adalah kelompok yang minoritas yang tidak mewakili pandangan mayoritas," tegas Fatah.

Pandangan keliru selanjutnya kata Fatah, radikalisme agama muncul semata-mata dari ajaran agama.
Pandangan tersebut kata dia, kurang tepat mengingat munculnya radikalisme agama terkait erat dengan banyak persoalan, seperti peta politik, kondisi sosial, kesenjangan ekonomi.

Selain itu juga tidak menutup kemungkinan adanya upaya dari gerakan trans nasional yang memang memiliki agenda untuk mengacak-acak pondasi kesatuan bangsa Indonesia.
Sementara itu Kepala Kantor Wilayah Kementerian Agama Sulawesi Tengah Mohsen Alidrus mengatakan, gerakan radikalisme atas nama agama juga sudah muncul di Sulawesi Tengah sehingga perlu langkah-langkah untuk mengantisipasinya.

Mohsen mengatakan ke depan dialog tentang radikalisme agama tidak saja dilaksanakan di ibu kota provinsi namun juga di berbagai daerah kabupaten di Sulawesi Tengah.

Senin, 21 Mei 2012

Umar Patek Minta Maaf pada Umat Kristiani


JAKARTA, Terdakwa kasus tindak pidana terorisme, Umar Patek meminta maaf pada seluruh umat Kristiani di Indonesia atas pemboman enam gereja yang dilakukannya pada malam Natal tahun 2000 silam. Hal ini ia ungkapkan usai menjalani sidang tuntutan di Pengadilan Negeri Jakarta Barat, Senin (21/5/2012).

"Saya meminta maaf khususnya terhadap umat Kristiani terutama yang di Jakarta. Saya menyesal atas perbuatan saya," kata Patek dengan mata berkaca-kaca.

Selain itu, Patek juga kembali meminta maaf pada seluruh korban dan keluarga korban peristiwa Bom Bali I. Baik korban warga negara Indonesia dan warga negara asing dan terhadap dunia internasional. Ia mengaku sejak awal sempat menolak rencana bom Bali dan bom malam Natal. Namun, penolakannya selalu dipatahkan Dulmatin yang lebih dianggapnya senior.

"Saya dan istri juga meminta maaf pada pemerintah karena membuat surat paspor dengan cara-cara yang tidak benar," tuturnya.

Usai mengungkapkan permintaan maafnya, Patek pun digiring petugas meninggalkan ruang sidang. Siang ini, Patek dituntut penjara seumur hidup oleh jaksa penuntut umum di Pengadilan Negara Jakarta Barat. Hal yang memberatkannya adalah keterlibatannya dalam peristiwa bom Bali I dan Bom malam Natal tahun 2000.

Pada Bom Bali I, ia berperan sebagai peracik bom. Peristiwa ini mengakibatkan tewasnya 192 orang. Bom tersebut meledak di tiga lokasi yakni di sebelah selatan kantor Konsulat Amerika Serikat, Denpasar; di dalam Paddy''s Pub, dan di depan Sari Club, Denpasar, pada tanggal 12 Oktober 2002.

Sementara pada bom malam Natal, ia terlibat dalam peledakan bom di enam gereja di Jakarta, yakni Gereja Katedral Jakarta, Gereja Kanisius, Gereja Oikumene, Gereja Santo Yosep, Gereja Koinonia, dan Gereja Anglikan.(KOMPAS.com).

Jumat, 18 Mei 2012

Prof. Dr. dr. H. Zainal Arifin Adnan penerbitan buku putih tentang deradikalisasi


SURAKARTA Setelah ditingkatkan statusnya menjadi Badan Nasional Penanggulangan Terorisme (BNPT) dimana dana operasionalnya diambilkan dari APBN, maka Kepala BNPT Irjen Pol (Purn) Ansyaad Mbai semakin gencar mengkampanyekan deradikalisasi di Indonesia. Dengan menggandeng MUI Pusat dan Forum Komunikasi Praktisi Media Nasional (FKPMN), BNPT meluncurkan roadshow halaqoh ke berbagai kota besar di seluruh Indonesia dengan mengundang para ulama dan tokoh-tokoh ormas Islam di daerah. Namun tujuan terselubung dari halaqoh sesungguhnya adalah untuk mendiskreditkan dan melemahkan kekuatan ormas-ormas Islam yang dinilai radikal dan selalu berseberangan dengan pemerintah.

Namun ternyata halaqoh yang sesungguhnya merupakan proyek deradikalisasi dari BNPT itu ternyata mendapat “perlawanan” dari MUI Kota Surakarta. Dibawah Ketuanya Prof. Dr. dr. H. Zainal Arifin Adnan SpPD-KR FINASIM yang juga Dekan Fakultas Kedokteran UNS Sebelas Maret Surakarta, diterbitkanlah sebuah buku putih yang mengkoreksi sekaligus meluruskan seluruh bahan dan isi slide dari halaqoh termasuk slide yang selalu ditampilkan kemana pun Kepala BNPT Ansyaad Mbai menjadi pembicara seminar mengenai terorisme.

Berikut ini wawancara Abdul Halim dari Tabloid Suara Islam dengan Ketua MUI Kota Surakarta, Prof. Dr. dr. H. Zainal Arifin Adnan yang sengaja menemuinya di kota Surakarta dan membahas seputar halaqoh dan penerbitan buku Gerakan Deradikalisasi serta bagaimana pandangannya mengenai umat Islam yang selalu dijadikan sasaran fitnah dalam kasus terorisme akhir-akhir ini.        

Suara Islam: Mengapa MUI Kota Surakarta sampai menerbitkan buku putih “Kritik Evaluasi & Dekonstruksi GERAKAN RADIKALISASI Aqidah Muslimin Indonesia” ?

H. Zainal Arifin Adnan: Bermula dari adanya sebuah halaqoh (pertemuan) yang diadakan pada 21 November 2010 lalu di sebuah hotel di kota Solo, yang diselenggarakan MUI Pusat bersama Forum Komunikasi Praktisi Media Nasional (FKPMN). Halaqoh itu mengundang delegasi MUI se Jawa Tengah, DIY dan Madura serta para ulama dan tokoh ormas Islam. Halaqoh itu bertemakan “Peran Ulama dalam Mewujudkan Pemahaman Keagamaan yang Benar.” Halaqoh sebelumnya telah diadakan di berbagai kota seperti Jakarta dan Medan. Undangan untuk meng-hadiri halaqoh sangat mendadak hanya sehari sebelum acara dimulai. 

Kemudian kita kontak Ketua MUI Pusat KH Ma'ruf Amin, ternyata beliau tidak mengetahui kalau halaqoh juga diadakan di kota Solo. Kemudian kita kontak teman di Jakarta, ternyata menurut keterangannya halaqohnya hanya monolog, jadi tidak diadakan di-alog karena para peserta hanya menerima paparan pembicara diantaranya dari MUI Pusat dan Badan Nasional Penanggulangan Terorisme (BNPT).  

Ternyata bahan halaqoh yang didapat dari Jakarta tidak cocok dan kita juga mendapatkan slidenya. Ternyata dalam slidenya, banyak ayat Al Qur'an yang terpotong, terjemahannya tidak pas dan hadistnya juga tidak pas sumbernya serta contohnya juga tidak pas. Maka sebagai ulama, kita wajib meluruskan, sebab bertanggungjawab terhadap umat dan itu merupakan fardhu 'ain.

Maka MUI Solo mengumpulkan para ulama, tokoh umat dan cendekiawan muslim untuk menerbitkan buku putih setebal 128 halaman lengkap dengan daftar pustakanya untuk menjawab bahan-bahan dari halaqoh tersebut, sebab kalau sampai keliru bisa sesat dan menyesatkan. MUI Solo merasa mempunyai tanggungjawab untuk meluruskan beberapa tulisan yang keliru dalam slide tersebut. Seperti seorang dokter, kalau mendiagnosa penyakitnya salah pasti terapinya juga salah dan akibatnya akan sangat fatal bagi pasien. 

Suara Islam: Mengapa buku putih Gerakan Radikalisasi ini dibuat ?

H. Zainal Arifin Adnan: Buku putih ini kita buat untuk meluruskan halaqoh tersebut. Buku ini bersifat ilmiah sehingga selalu ada referensinya. Jadi bukan dari pendapat saya atau ulama, tetapi berdasarkan referensi secara ilmiah. Buku ini bisa merupakan pendapat MUI Solo, ulama dan tokoh masyarakat. Saya kira penerbitan buku ini merupakan fardhu 'ain untuk menggugurkan dosa semuanya.

Terus terang saya kasihan sama Presiden SBY kalau tidak kita luruskan maka akan dosa semuanya terutama pada Presiden SBY. Saya sebagai Ketua MUI Solo dan sesama muslim sering menangis, sebab saya mempunyai presiden sering dipakai untuk bahan tertawaan. Saya juga kasihan sama Kepala BNPT Ansyaad Mbai, sebab beliau bukan ahli tentang Islam tetapi menilai Islam.

Kalau sama-sama Islam tetapi pendapatnya berbeda, maka kita wajib kembali kepada Al Qur'an dan As Sunnah. Maka penerbitan buku ini merupakan sesuatu yang positif, siapapun yang ingin mencetaknya silahkan, tetapi terlebih dahulu harus melalui izin MUI Solo. MUI Solo tidak pernah mengeluarkan dana untuk menerbitkan buku ini, semuanya sumbangan dari umat Islam. MUI Solo menerbitkan buku ini dengan tulus ikhlas, tidak memiliki maksud dan tujuan politik apapun. Jadi siapapun yang merasa memiliki kewajiban fardhu 'ain, maka wajib mener-bitkan buku putih ini.

Suara Islam: Mengapa MUI Solo berani berbeda pendapat dengan MUI Pusat yang justru melakukan kerjasama dengan BNPT untuk mengkam-panyekan proyek deradikalisasi ?

H. Zainal Arifin Adnan: Saya kira ulama itu tidak mengenal budaya birokrasi seperti dalam pemerintahan. Bisa saja ulama desa ternyata lebih pandai dari ulama MUI Solo atau MUI Pusat. Jadi kepandaian dalam agama itu tidak hanya dimiliki ulama MUI Solo atau MUI Pusat saja, tetapi juga ulama di pedesaan terpencil bahkan di wilayah pegunungan. 

Suara Islam: Menurut Anda, apakah gerakan deradikalisasi yang dikampanyekan secara gencar BNPT, memang sasarannya umat Islam Indonesia ? 

H. Zainal Arifin Adnan: Kalau selama ini yang kita dengar dari BNPT sasarannya bukan umat Islam. Tetapi selama ini BNPT selalu menyatakan mereka yang tertangkap sebagai teroris itu membawa syariat Islam dan cita-cita melakukan jihad, maka inilah yang menggarisbawahi adanya benang merah keterkaitan itu. Ucapannya ternyata lain dengan perbuatannya, seperti yang kita ambil dan ulas dalam slide dari beliau (Ansyaad Mbai) sendiri. Bahkan dalam buku ini sebagian kita ambil dari slide beliau sendiri kemudian kita luruskan.

Suara Islam: Apakah deradikalisasi yang dikampanyekan BNPT merupakan proyek untuk menghancurkan kekuatan ormas-ormas Islam ?

H. Zainal Arifin Adnan: Wallahu A'lam, yang mengetahui hati kita masing-masing. Tetapi harus diingat, kita ini bukan orang bodoh dan rakyat juga tidak bodoh. Kita wajib membela diri dengan meluruskan. Karena kita ulama, maka meluruskannya secara syar'i dan kekeluargaan. Karena pelaksanaan halaqoh ditujukan kepada para ulama dan umat Islam, maka kita menjawabnya dengan meluruskan melalui buku putih ini.

Suara Islam: Mengapa umat Islam selalu mendapat stigma negatif sebagai teroris, sedangkan pihak Kristen seperti RMS di Maluku dan OPM di Papua hanya sebagai separatis ?  

H. Zainal Arifin Adnan: Bahkan akhir-akhir ini istilah separatis diusulkan untuk dicabut sehingga nantinya untuk menyebut RMS dan OPM tidak memakai istilah separatis lagi. Saya kira itu sudah tercetak dalam ayat Al Qur'an yang menyebutkan: “Mereka berusaha memadamkan cahaya (agama) Allah dengan tangan mereka, tetapi Allah akan menolong cahaya Nya meski orang-orang kafir mem-benci.”  

Suara Islam: Menurut Anda, apakah kampanye deradikalisasi yang digerakkan BNPT mendapat bantuan asing terutama dari AS dan Australia ?

H. Zainal Arifin Adnan: Saya kira itu diluar jangkauan ulama sehingga ulama tidak bisa masuk kesana. Bashiroh (mata hati) kita hanya bertanya, kok sampai begitu, orang mengaku Islam tidak paham Islam tetapi menilai Islam. Ini pasti ada sesuatu inisiatif besar grand design besar, berdosa kita kalau tidak mengingatkannya.

Suara Islam: Ada ayat yang menyatakan “Wamakaru wamakarallah. Wallahu khoirul maakiriin.” Adanya gerakan deradikalisasi apakah merupakan makar terhadap Allah dan umat Islam ?   

H. Zainal Arifin Adnan: Karena ayat Al Qur'an demikian adanya, saya kira itu makar terhadap Allah yang sudah dicetak dalam Al Qur'an. Kita nanti akan ditanya Allah: “Apakah kamu kira gampang masuk Jannah, Aku belum melihat jihadmu (kesungguhanmu) dalam membela Islam.” Adapun yang sering dipakai slogan Muhammadiyah: “Jika kamu ingin menolong (agama) Allah, maka Allah akan menolongmu.”

Kita ini menolong agama Allah dengan meluruskan berbagai kesalahan yang selama ini ada dalam halaqoh BNPT.  Kita juga berusaha menolong umat Islam dengan meluruskannya agar selamat dihadapan Allah dan mendapat hidayah Allah SWT.

Sedangkan bagi yang aktif menyebarkan slide-slide halaqoh keliling Indonesia, semoga slidenya salah. Maka seharusnya program kampanye deradikalisasi ini segera dihentikan sebelum dikonsultasikan dan dibetulkan terlebih dahulu oleh ulama. Ulama pun harus ulama yang betul, ulama khos dan ulama khoir.       

Suara Islam: Pada zaman Orde Baru lalu mun-culnya Kasus Imron, Komando Jihad, Teror Warman dan lain-lain, ternyata hasil operasi intelijen. Apakah munculnya teroris sekarang ini juga hasil operasi intelijen untuk mendiskreditkan umat Islam Indonesia ?

H. Zainal Arifin Adnan: Saya termasuk sebagian kecil orang yang tidak percaya dan pendapat itu dibolehkan dalam demokrasi. Saya tidak percaya kalau itu betul-betul teroris. Pasalnya, saya tidak pernah dengar suaranya dari mereka yang dituduh teroris dan yang ditembak mati. Saya mempercayai suara Tim Pembela Muslim (TPM). TPM melaporkan kepada kita berbeda dengan yang selama ini kita dengar. Saya percaya pada TPM saja. Kalau saya sampai menjangkau kesana bukan wewenang saya untuk menilai benar atau tidak, tetapi saya boleh saja tidak percaya. Tetapi  saya tidak bisa menjustifikasi karena posisi saya sebagai seorang ulama. Saya juga teringat kesenian ketoprak yang menceriterakan mengenai antek kompeni. Saya hanya bisanya istighfar saja, apa ini terulang mengenai antek kompeni. Kita sekarang dipertontonkan suatu sandiwara atau ketoprakan.

Suara Islam: Menurut Anda, apakah salah satu tugas ulama adalah mengingatkan umat Islam ?

H. Zainal Arifin Adnan: Ya, salah satu tugas ulama memang mengingatkan umat Islam. Seperti dalam Surat Adz-Dzaariyaat (51) ayat 55: “Dan tetaplah memberi peringatan, karena sesungguhnya peringatan itu bermanfaat bagi orang-orang yang beriman.” Juga dalam Surat Al-A'laa (87) ayat 9: “Oleh sebab itu berikanlah peringatan karena peringatan itu bermanfaat.”
Kalau beliau-beliau itu sering mengakui di televisi kalau dirinya juga umat Islam dan beriman, maka kita ingatkan dengan ini, bagaimana. Semoga beliau tidak terkena ayat Allah: “Sesungguhnya Allah tidak memberi petunjuk kepada kaum yang fasiq”. Jika sampai terkena ayat itu, masya' Allah, kasihan sekali mereka. 

Suara Islam: Apakah MUI Pusat pernah mengirim utusan ke MUI Solo untuk membicarakan buku putih mengenai Gerakan Deradikalisasi ini ?

H. Zainal Arifin Adnan: Memang pernah. Kepada utusan MUI Pusat saya katakan: “laa yamasuhu illal muthoharuun”. Jadi niat utusan MUI Pusat kesini harus bersih. Kalau dari sana sudah membawa justifikasi, seperti kesimpulan dalam halaqoh dimana sudah diskenario dari sana, ya kesini tidak ada gunanya. Kalau mereka kesini dengan hati bersih, insya Allah akan ada manfaatnya. Makanya sekarang dia sudah tidak berani menjustifikasi. Tetapi katanya mereka hanya dengar-dengar saja, kalau begitu harus tabayun. Setelah saya jelaskan, mereka baru kaget. Ternyata semua isi buku ini berdasarkan studi kepustakaan, jadi bukan karangan. Buku putih ini bukan pendapat saya, tetapi pendapat semua yang andil dalam membuatnya. Daftar pustakanya lengkap, jadi kita tidak sembarangan dalam membuat buku putih ini. Jadi buku ini benar-benar ilmiah dan bisa dipertanggungjawabkan isinya.

Sebaliknya dalam penelitian kami, daftar pustaka yang dipakai di slide halaqoh itu ternyata tidak benar cara mengambil. Kemudian kita koreksi supaya tidak berdosa.  Semuanya kembali kepada Allah. Ayatnya kan sudah jelas: “Wahai orang-orang beriman, taatlah kepada Allah, taatlah kepada Rasul dan ulil amri diantara kamu. Jika ada sesuatu masalah, maka kem-balikan kepada Allah dan Rasul Nya.” 

Ayat ini cukup menarik dimana kita diminta untuk taat kepada Allah, Rasul dan ulil amri. Tetapi kalau ada masalah apapun maka kembalinya kepada Allah dan Rasul Nya, ulil amri tidak disebut dibelakangnya. Ayat Al Qur'an ini sangat hebat sekali. Ulil amri itu apakah ulama atau penguasa atau siapa pun, jangan kembali kepada manusia, tetapi kembalilah kepada Allah dan Rasul Nya. Karena ulil amri itu manusia yang memiliki nafsu dan diciptakan dalam kondisi dhoif atau lemah, tempat salah dan lupa. Bagaimana pun ini merupakan konsekwensi kita di negara demokrasi yang bebas dan beragama, meski bukan negara agama tetapi juga bukan negara setan.

Namun anehnya ada yang mengaku ulama tetapi  sinis terhadap fatwa-fatwa ulama, bahkan ada yang mengatakan MUI dibubarkan saja, karena fatwanya tidak dianggap. Boleh saja mereka tidak menganggap fatwa ulama. Tetapi yang diingatkan Allah dan Rasul Nya dalam Al Qur'an dan As Sunnah adalah umat yang bisa diatur sebagai tanda bukti orang yang bertaqwa, yakni mengembalikan persoalan kepada Allah dan Rasul Nya. Saya kira ini sesuatu yang sangat positif.

Suara Islam: Bagaimana sebaiknya menurut Anda, hubungan antara ulama khoir dan penguasa?

H. Zainal Arifin Adnan: Ulama khoir wajib menasehati penguasa secara baik dan santun, karena penguasa mempunyai kunci masuk Jannah asal memerintah dengan adil. Jadi kalau memerintah tidak adil dan tidak sesuai dengan tuntunan Islam, maka penguasa bisa masuk neraka. Apalagi hidup dan kekuasaan ini hanya sementara. Ulama khoir wajib mengingatkan para penguasa, karena kekuasan sewaktu-waktu akan lengser tidak abadi dan nantinya mereka juga akan mati dan mempertanggung-jawabkan semuanya di akhirat nanti. Jadi ulama khoir itu harus sabar dalam mengingatkan penguasa, karena kunci keberhasilan perjuangan menegakkan kebenaran adalah dengan kesabaran. (SI-online/arrahmah.com)

Kamis, 17 Mei 2012

Dhuar! Ledakan Terjadi di Kompleks Perumahan Hatta Rajasa


Jakarta Ledakan terjadi di dekat rumah Menko Perekonomian Hatta Rajasa, di Perumahan Fatmawati Golf Mansion, Cilandak, Jakarta Selatan. Ledakan terjadi karena reaksi kimia kaporit yang digunakan saat membersihkan kolam renang.

"Kejadianya sekitar pukul 17.30 WIB sore tadi," kata Kapolsek Cilandak, Kompol Murwoto saat dihubungi detikcom, Selasa (8/5/2012).

Murwoto menjelaskan, ledakan tersebut bermula ketika seorang petugas pembersih kolam yang rumahya berjarak 50 meter dari rumah Hatta Rajasa tengah membersihkan kolam dengan menggunakan kaporit.

"Kemungkinan ada reaksi dari kaporit dan terdengar suara ledakan. Suara terdengar keras karena lingkungan di situ relatif sepi," jelasnya.

Petugas yang diketahui bernama Caca tersebut dilarikan ke RS Fatmawati guna menjalani perawatan. "Korban tampak seperti syok," kata Murwoto.

Selain syok akibat ledakan, Caca juga terkena luka bakar. Namun, Murwoto masih mengecek luka yang diderita korban.

"Kita sedang cek ke rumah sakit," katanya.(detikcom)

Selasa, 15 Mei 2012

Imam Masjid New York Minta FPI Berdakwah dengan Damai


Jakarta,  Imam Masjid Pusat Kegiatan Islam ("Islamic Centre") New York, AS, Shamsi Ali mengimbau ormas Front Pembela Islam (FPI) untuk melakukan dakwah dengan jalan damai.
Pernyataan itu ia sampaikan untuk menanggapi fenomena Indonesia Tanpa FPI, tantangan terhadap salah satu ormas Islam di Indonesia yang saat ini menjadi buah bibir banyak kalangan, terutama di media jejaring sosial.


"Saya menghimbau agar teman-teman di FPI introspeksi diri. Apakah jalan yang mereka tempuh sesuai dengan etika Islam atau tidak," ujar Shamsi di Jakarta.
Menurutnya, adanya ormas-ormas Islam tetap diperlukan untuk mewadahi aspirasi yang berkaitan dengan masalah kemasyarakatan.
"FPI ada karena adanya dorongan masyarakat untuk meredam kemungkaran-kemungkaran yang terjadi. Namun, saya tidak setuju jika untuk meredam kemungkaran dilakukan dengan cara yang mungkar pula, yang tidak sesuai dengan etika Islam," ujarnya.
Shamsi juga berpendapat bahwa pembubaran FPI tidak menyelesaikan masalah karena publik yang mendukungnya tetap ada karena merasa aspirasi mereka terwakili oleh ormas tersebut.
"Saya benar-benar menghimbau kepada FPI untuk merenungkan apakah cara yang mereka gunakan itu sesuai dengan nilai-nilai yang diperjuangkan karena selamanya Islam itu membawa pesan damai, bukan kekerasan," katanya.
Ia menjelaskan dalam Alquran, setiap ada kata jihad selalu diiringi dengan kata "fisabilillah" atau "terkait dengan jalan Allah" yang merupakan jalan kebenaran dan kebaikan sehingga jangan sampai niat yang baik ditempuh dengan cara-cara yang melenceng dari jalan itu.


"Jika kita melihat pada sejarah perjuangan Nabi Muhammad, beliau selalu melakukan dakwah secara persuasif melalui jalan yang damai," kata Shamsi.
Imam Shamsi Ali datang ke Indonesia bersama rombongan yang terdiri atas 13 pemuka agama-agama di AS, untuk menyampaikan pesan perdamaian bahwa agama bukan merupakan sumber konflik, namun sumber harmoni manusia di dunia.
Pemuka-pemuka agama tersebut mewakili tiga elemen komunitas, yakni Yahudi, Kristen (Katolik dan Protestan) dan Islam.